Thx God, Im Positive

Menjadi ODHA bukanlah halangan bagi saya untuk  terus beraktivitas. Perkenalkan saya IM 25 tahun. Saya mengetahui HIV positif sejak 13 Maret 2009. Ketika saya berada dipuncak karir pada pekerjaanku. Saya beranggapan ini adalah akhir perjalanan hidupku.
Saya dilahirkan dari keluarga yang religius. Masa sekolah saya adalah orang yang cukup pintar dari SD hingga SMA selalu menduduki rangking 10 besar karena ini merupakan didikan Bapak saya. Beliau sangat displin dalam mendidikan semua anaknya. Saya adalah anak ke 4 dari 6 bersaudara. Keluarga kami adalah keluarga yang kurang mampu. Tetapi itu bukan menjadi penghalang untuk terus bersekolah.
Setelah lulus SMA saya berencana untuk bekerja terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk bekerja di kota besar. Dari sinilah saaya mulai mengerti akan pergaulan yang benar – benar bebas buat saya. Dua tahun merantau tanpa menghasilkan apa – apa karena uang gaji selalu untuk berfoya- foya. Massa kontrak kerja habis dan saya putuskan untuk kembali ke kampung halaman.
Rezeki tak akan lari kemana. Alhamdulilah saya diterima bekerja menjadi penyiar di sebuah radio yang cukupu terkenal di Kota saya.
Ketika berada dipuncak karir saya harus mengalami sakit yang benar – benar parah. Demam tinggi, kurang nafsu makan dan berat badan terus menurun. Akhirnya saya harus dirawat disebuah rumah sakit kecil.
Dari situlah ada seorang psikolog yang mendatangi saya untuk melakukan tes HIV. Saya pikir tidak beresiko tertular HIV, sayapun menolak tetapi dia selalu menyuruh saya untuk melakukan tes HIV. Dengan berat hati akhirnya saya melakukan tes HIV
Keesokan harinya psikolog itu datang membawa surat hasil tes HIV dengan keadaan masih tertutup rapat. Saya biingung dengan tulisan REAKTIF. Dan psikolog itu menjelaskan bahwa saya positif HIV. Saya bingung harus berbicara apa sedangkan kondisi saaya sangat parah. Dengan berat badan hanya 40kg dan lemas tak berdaya. Sepertinya malaikat sudah siap untuk menjemput saya.
Keadaan diperparah ketika pihak rumah sakit benar benar memproteksi keadaanya saya. Semua orang yang menjenguk saya dilarang untuk melihat kondisi saya termasuk Ibu saya pun agak sedikit menjauhi saya.
Ditengah kebingungan ini datanglah malaikan penolong saya yaitu seorang pegawai dari DinKes. Beliau sangat sabar menjelaskan kepada saya apa itu HIV AIDS.
Dari situlah aku mulai semangat.Bahwa aku bisa sembuh dan akhirnya aku dirujuk ke sebuah rumah sakit yang representatif di luar kota. Karena saya juga mengalami IO antara lain TBC, Hepaititis B dan Pneumonia dengan CD4 tinggal 93.
Keadaan mulai membaik pada diri saya, tetapi didalam benak terus terpikirkan “Apakah saya harus memberitahu keluarga saya” . Tapi saya sangat begitu takut terutama kepada Bapak.
Ibuku dengan sabar merawat saya. Setiap hari selalu ada untuk Saya . Dan Ibu selalu menemani Saya untuk berobat rawat jalan kemanapun.
Alhamdulilah berkat bimbingan dari DinKes sayapun terbuka kepada Ibuku. Pihak DinKes memberitahukan bahwa anaknya adalah HIV positif. Ketika itu saya sedang antri obat disebuah klinik paru paru. Beribu perasaan bercampur menjadi satu ketika Ibu menghampiri saya. Takut, cemas dan stres terus menghantuui saya. Tiba tiba Ibu bilang.. APAPUN PENYAKIT KAMU..ENTAH KANKER, JANTUNG MAUPUN HIV..KAMU ADALAH ANAKU YANG PALING SPECIAL…mendengar kata tersebut aku langsung merinding dan mengeluarkan air mata. Dan kata – kata tersebutlah yang menjadi obat yang aku butuhkan saaat in.
Selang berapa waktu akhirnya kondisi saya sudah membaik dengan berat badan hampir 65 kg dan sayapun sudah mulai bisa beraktivitas.
Penderitaanku belum berkahir disitu saya diberhentikan dari pekerjaan saya tanpa alasan yang jelas. Hal inilah yang membuat stres mendera. Mungkin Bos saya mengetahui bahwa saya adalah orang dengan HIV positif. Sikap diskriminasi yang pernah saya alami ini sebagi motivasi untuk bias lebih bersemangat membuktikan kepada orang yang telah memandang sebelah. Saya buktikan bahwa Bos telah salah memecat saya.
Akupun mulai gelisah dengan masa depan saya. Menganggur hampir 3 bulan. Tapi saya bersyukur mempunyai Ibu yang terus berjuang untuk meyakinkan saya.
Sampaikan sekarang Ibu tidak pernah menanyakan bagaimana saya bisa terinfeksi HIV. Tetapi yang ditanyakan oleh ibu adalah setelah sembuh total saya harus kemana ?? cari kerja atau melanjutkan kuliah ?? Karena mimpi terbesar saya adalah menghadirkan Bapak Ibu pada sebuah upacara wisuda yang hidmat.
Akhirnya aku putuskan untuk mencari pekerjaan di kota besar. Hal ini aku lakukan karena agar Bapak tidak curiga terhadap penyakit saya. Bekerja sebagai buruh di sebuah restoran sudah cukup bagiku untuk menghidupiku sendirian di kota besar.
Karena saya harus seumur hidup mengkonsumsi ARV dan itupun harus mengambil dirumah sakit ketika saya dirawat. Saya memutuskan untuk pindah ke rumah sakit terdekat agar saya bisa mengakses ARV. Akhirnya saya menemukan rumah sakit swasta yang begitu mudah bagi ODHA untuk mengakses obat. Tidak begitu saja akhirnya dengan keberanian saya memutuskan untuk berganbung dengan KDS dirumah sakit tersebut. Hal inilah yang membuat hidup saya semkain bersemangat ketikas bertemu dengan teman teman yang senasib dengan saya.

Kabar baik datang dari ibu saya. Bahwa saya harus melanjutkan kuliah…Wow inlah yang aku tunggu – tunggu untuk melanjutkan kuliah. Tanpa aku sia – siakan aku putuskan kuliah di sebuah PTS dengan jurusan Komunikasi.
Atas dorongan ibulah aku terus semangat menjani hidup walaupun dengan status HIV POSITIF tidak menghalangi aku untuk terus belajar. Karena Ibuku hidup begitu pas – pasan. Akhirnya aku memilih untuk bekrja sambil kuliah. Tuhan Maha Adil Saya diterima bekerja disebuah resto sebagai waiter dan kuliah terus berlanjut.
Setelah kontrak bekerja di resto selesai saya pun terus mencari pekerjaan agar saya tidak selalu merepotkan orang tua terutama ibu saya., Alhamdulilah saya diterima di sebuah radio ternama di kota besar. Hal ini memacu saya lebih semangat belajar dan bekerja.
Saya aktif di KDS (Kelompok Dukungan Sebaya ). Hal ini membuat aku semakin mengetahui apa itu HIV AIDS. Saya juga sering melakukan sosialisasi ke masyarakat dan pelajar serta mahasiswa tentang apa itu HIV AIDS terkadang saya melakukan testimoni agar mereka juga tahu bahwa ODHA sama seperti mereka, punya hak untuk hidup, belajar, bekerja dan berkarya.
Saya selalu menegaskan bahwa HIV hanya pada diri saya. Jangan sampai menular keorang lain. Cukup pada diri saya. Saya selalu brpesan kepada pelajar dan mahasiswa agar mempergunakan waktu yang baik untuk hal hal yang positif karena masa depan mereka masih panjang. Jangan sampai senasib dengan saya..
Hidup saya semakin lengkap ketika teman kuliah sayang mendukung saya untuk tetpa hidup sehat. Inilah yang menjadi obat ampuh bagi saya tentunya juga doa Ibuku..
Tuhan itu Maha Adil. Tuhan menciptakan siang, pasti Tuhan juga menciptakan malam. TUhan menciptakan penyakit, pasti Tuhan juga menciptakan obat.Nah obatnya itu pada diri saya. Alhamdulilah CD4 sudah mencapaii 639 dengan berat badan seperti semula..Ada juga teman saya yang tidak percaya bahwa saya adalah orang dengan HIV positif
Bahwa orang HIV berhak untuk berkeluarga. Tapi hal ini tidak pernah aku pikirkan. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagimana cara saya membalas budi kepada ibu saya yang sudah tulus menerima saya sebagai anaknya. Hal inilah yang terus memacu saya untuk bisa mewujudkan mimpi saya. Bahwa saya adalah anak beliau. Terkadang saya justru bersyukur atas anugerah virus ini.. sering berguman thx God i’m positive. Dari virus inilah saya dapat bermanfaat untuk orang banyak, dapat bertemu dengan orang dari latar belakang apapun dan yang terpenting adalah bersyukur atas karunia hidup yang luar biasa dari Tuhan.
Buat teman-teman yang istimewa jangan patah semangat..Raihlah mimpimu dan terus semangat untuk membuktikan bahwa kita manusia yang bermanfaat untuk orang lain

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s